Fransisca Bellamia SH, Advokat Yang Rela Jadi Tim Satgas Covid-19

inilahNEWS - BANDUNG  –  Kata-kata kasar dan tidak mengenakkan yang kerap diterimanya setiap hari, tidak membuat  Fransisca Bellamia, SH surut dan berhenti melakukan edukasi dan sosialisasi protokol Kesehatan kepada warga. Yang ada dibenaknya hanyalah agar warga tidak terpapar virus corona.

“Saya hanya Ingin membantu warga dan memastikan protokol Covid19 berjalan dan ditegakkan. Ini semua demi  keselamatan bersama, “ kata Frasisca, Sabtu (24/10).

Wanita kelahiran 1975 ini mengaku memang kerap mendapat respon yang tidak mengenakkan dari warga. Maklum, sebagai salah satu tim satgas covid-19 kelurahan Cikawao Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Ia kerap bersentuhan langsung dengan warga.

“ Yah… namanya juga orang, karakternya pasti beda-beda. Ada yang menerima saat ditegur ada juga tidak. Tapi tidak jadi masalah, yang penting saya sudah mengingatkan,” ujar Fransisca yang akrab disapa Chika ini dengan santai.

Baginya,  memang merupakan keharusan dalam menerapkan protokol Kesehatan. Sebab, jika warga bandel  maka angka penularan akan semakin tinggi.

“ Membuat warga mau dan sadar untuk menerapkan protokol Kesehatan itu memang tidak mudah. Tetapi kita tidak menyerah. Karena cuma dengan itu kita bisa mencegah penularan. Yakni memakai masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak dan tidak berkerumun,” ucap Chika yang juga adalah ketua RT di wilayahnya.

Wanita yang berprofesi sebagai Advokat ini bahkan rela dimusuhi warga gara-gara Ia menegur warga yang selalu berkeumun dan tidak menggunakan masker.

“ kalau dibilang sakit hati, ya kadang-kadang juga ada, tapi ya sabar aja. Mungkin mereka engak faham,” tuturnya.

Ia mengaku memang menyadarkan warga itu adalah hal yang tersulit dan penuh tantangan. Apalagi menyangkut soal teknis penyebaaran. Seperti masker sebagai perlindungan diri dari droplets yang menjadi media penyebaran virus Covid19.

“  Berdasarkan pengalaman dilapangan, ada yang Well educated dengan unwell educated person. Ada yang dengan mudah faham, ada juga yang baredegong. Mengetahui tapi mengabaikan, karena menganggap Covid19 itu fiktif, bahkan rekayasa,” tuturnya.

Menurutnya, justru disitulah tantangan tugas seorang satgas Covid. “ Tugas kami memang untuk menjaga dan melindungi warga. Jika bukan kita, lantas siapa lagi. “ katanya.

Ia menilai, sejauh ini kesadaran warga untuk melaksanakan protokol kesehatan malah menurun,” Makin sini makin Turun. Angin- anginan sesuka hati.  Miris Pak. Seperti menggarami laut. Sepertinya efek jera denda tidak efektif,” ujarnya.

Meski begitu, Ia tidak lantas berniat melepas tugas dan tanggung jawabnya begitu saja. Sebab, kata Chika, jika semua melepas masker, maka sia-sia saja upaya satgas dalam memutus mata rantai covid-19.

“ Saya siap menjadi garda terdepan, meski resiko terpapar juga tinggi. Tapi saya ikhlas dan saya siap pak,” ucapnya.

Karena, kata dia,  selain memang sebagai ketua RT di wilayahnya, Ia berkaca dari pengalaman yang sudah-sudah.

“ saudara saya ada juga yang terpapar, karena itu saya tidak mau warga saya juga terpapar,” kata wanita yang dikenal tegas ini.

Bagi Chika, virus itu tidak memandang status sosial, “ Mau dia tukang becak, mau di pejabat semua sama. Jika sudah terpapar maka akan ada resiko. Syukur-syukur kalau imun nya kuat, kalau tidak ya the end,” tandasnya.

Karena itu, sekali lagi Ia mengingatkan akan pentingnya menjaga dan menerapkan protokol Kesehatan menjadi bagian dari Adaptasi Kebiasan Baru (AKB) dalam kehidupan sehari-hari.

Alasan inilah mengapa Ia kerap melakukan patroli  meskipun seorang diri.

“ Saya membuat sendiri jadwal keliling,  untuk memastikan protokol berjalan khususnya di wilayah saya bertugas. Meksipun kadang-kadang sampai  larut malam,” katanya.

Meksi begitu, Ia juga menyayangkan aturan yang menurutnya tidak tegas dan kerap tidak konsisten.

“ Pemerintah tidak membuat aturan yang tegas dan konsisten untuk penerapan hukumannya. Perwal Kita tidak tegas untuk reward dan punishment nya. Seharusnya tegaskan sejak awal, siapa yang berkewajiban bahkan berhak memberikan hukuman atas pelanggaran protocol kesehatan. Bahkan yang sudah diberi kewenangan pun seringkali tidak konsisten. Justru ikut melanggar. Harusnya jadilah contoh yang baik agar warga juga ikut contoh yang benar,” ketusnya.

Sehingga, kata dia, sasaran dari aturan yang dibuat dapat benar-benar berjalan efektif dan sesuai dengan harapan. Namun ia percaya dan yakin, bahwa jika semua pihak bekerja dengan sungguh-sungguh serta didukung oleh seluruh masyarakat, pandemi corona ini akan cepat berakhir.

“ Semua ingin Covid-19 berakhir. Karena itu mari jaga diri, mari jaga sesama dengan terus menerapkan protocol kesehatan” tutupnya.

Editor  : Nuryati

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *