MENANGISLAH, AGAR ENGKAU BAHAGIA (Sebuah esai Kamis pagi)

inilahNEWS - Oleh : Agus Jabo

Ketum KPP -PRD

 

Sejak sore Setyowati, perempuan muda itu mendapatkan telpon dari nenek Seroja, menanyakan apakah Seroja, anak perempuan usia sekitar 9 tahun ada di rumahnya. Anak itu memang sering datang, kemarin sore pun datang ke rumahnya, tetapi hari ini tidak. Menurut neneknya sejak siang, pergi dan tidak ada yang tahu di mana dia berada.

 

Habis Isak, tiba-tiba Setyowati menangis, dengan suara yang cukup keras dia memanggil Surama, suaminya. Sepertinya dia mendapatkan kabar kalau ada orang meninggal. Ternyata yang meninggal Parman, bapak Seroja.

 

Parman bekerja serabutan, tinggal di rumah kost dengan satu anak perempuan, Seroja. Ibu anak itu sudah meninggal, dia terkena HIV, virus yang kemungkinan besar berasal dari mendiang suaminya, sebelum menikah dengan Parman.

 

Tak lama setelah melahirkan Seroja, Ibu itu pun meninggal. Parman, ayah Seroja kemudian beristeri lagi, isteri yang sekarang kerja menjadi TKW di Malaysia.

 

Parman sering jatuh sakit, setelah melakukan berkali-kali pemeriksaan baru ketahuan kalau dirinya terkena HIV. Walau dirinya sering sakit tapi wataknya keras dan seolah tidak mau mengakui kalau fisiknya lemah. Tidak disiplin minum obat atau ke RSUD untuk mengecek kesehatan. Padahal RSUD sudah menggratiskan beaya perawatan termasuk obat.

 

Sekitar dua tahun yang lalu, Sabtu sore itu mendung, hembusan angin terasa segar di tengah udara yang pengap. Surama berjalan-jalan di sekitar rumah sambil menunggui anaknya bermain. Di depan gerbang rumahnya sering muncul anak perempuan kecil, berwajah pucat, dengan badan yang hanya tinggal tulang saking kurusnya.

 

Anak itu sering menyendiri di antara anak-anak sebayanya bermain.

 

Di rumah Surama bercerita tentang anak perempuan itu kepada istrinya, Setyowati, ternyata istrinya juga melihat hal yang sama.

 

Surama dan Setyowati bersama tiga anaknya yang masih kecil adalah pendatang yang belum lama tinggal di sebuah Cluster di kampung itu.

 

Setyowati kemudian bertanya ke tetangga kiri kanan siapa sesungguhnya anak perempuan itu. Ternyata anak itu bernama Seroja, tinggal tak jauh dari rumah Surama dan Setyowati. Dia tinggal bersama Parman, bapaknya yang sering jatuh sakit.

 

Seroja berwajah pucat, badan kurus tidak terurus.

 

Sudah beberapa waktu Seroja tidak kelihatan lagi di depan rumah keluarga Surama dan Setyowati.

 

Pada suatu pagi, Setyowati berkunjung ke rumah Seroja, ternyata Seroja tinggal di kost an Bapaknya sendirian. Bapaknya entah pergi ke mana. Wajahnya pucat, badannya menggigil, mulutnya sudah mulai tumbuh jamur. Tidak ada makanan sedikitpun yang disediakan Bapaknya untuk Seroja.

 

Setyowati kemudian pergi ke warung untuk membeli nasi, kue dan susu ultra untuk Seroja. Setelah makan, kemudian Seroja bercerita kalau sejak kemarin dia ditinggal Bapaknya dan belum makan sama sekali.

 

Dengan terbata-bata Seroja melanjutkan cerita, ternyata dia sakit dan sudah agak lama obatnya habis. Setyowati mencari tahu ke tetangga, apakah ada saudara Seroja, ternyata Neneknya tinggal tak jauh dari rumah kost Seroja.

 

Setyowati menemui nenek Seroja, dari situlah ketahuan kalau Parman dan Seroja terkena virus HIV.

 

Setyowati kemudian mengontak teman-temannya yang kebanyakan aktivis. Dan mereka berjanji akan datang untuk menjenguk Seroja.

 

Saat bapak Seroja ada di rumah, Setyowati kemudian menghubungi teman-temannya untuk datang. Setelah para aktivis datang yang sebagian besar adalah relawan HIV, menemui Parman dan Seroja di kostnya.

 

Seroja kelihatan semakin lemah, relawan meminta ijin Parman agar Seroja diperbolehkan untuk dibawa ke RSUD, setelah berdebat panjang, akhirnya Parman mengijinkan Seroja dibawa ke RSUD.

 

Setelah beberapa lama mendapatkan perawatan, Seroja kelihatan mulai sehat. Pihak RSUD mengijinkan Seroja untuk pulang dengan tetap meminta Seroja untuk rajin periksa dan meminum obat.

 

Seroja mulai kelihatan ceria, dia sering keluar rumah menyaksikan teman-temannya bermain. Sejak pihak sekolah tahu Seroja terkena HIV, sepertinya pihak sekolah tidak berkenan Seroja untuk sekolah. Walau demikian, keinginan yang sangat kuat Seroja untuk bisa sekolah, membuat dia sering datang ke sekolah, walau hanya bisa di luar ruang kelas, menyaksikan teman-teman seusianya masuk sekolah.

 

Walau Seroja tidak tinggal serumah, Setyowati dan Surama sudah menganggap Seroja seperti anaknya sendiri. Segala kebutuhan harian Seroja diusahakan untuk selalu dipenuhi. Dukungan aktif dari para aktivis dan relawan juga sangat membantu kehidupan Seroja. Agar tetap sehat asupan gizi yang dibutuhkan Seroja diperhatikan dengan seksama oleh Setyowati.

 

Demikian juga untuk kebutuhan pendidikan, seminggu dua kali Seroja datang ke rumah Setyowati untuk belajar, termasuk belajar Sholat dan membaca Al Qur’an.

 

Selain komunikasi langsung, tiap hari Setyowati menghubungi Seroja menggunakan WA, pakai Android Parman sebelum dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup. Agar komunikasi tetap lancar, akhirnya Setyowati memberikan android ke Seroja, beserta paket data.

 

Sebelum Covid 19 mewabah, teman-teman Seroja lagi suka bermain sepeda, Seroja hanya bisa melihat keceriaan teman-temannya. Walau anaknya pendiam, karena sudah menganggap Setyowati dan Surama juga sebagai orang tuanya, Seroja memberanikan diri untuk meminta dibelikan sepeda ke Setyowati.

 

Akhirnya Seroja mendapatkan sepeda yang diinginkannya.

 

Karena Parman juga sering sakit, setiap hari Setyowati mengontrol Seroja untuk urusan makanan dan obat. Kalau obat sudah habis atau harus kontrol ke RSUD, Setyowati mengurus Seroja ke RSUD.

 

Pandemi Covid 19 sangat memukul kehidupan Parman, hampir 3 bulan lebih dia tidak bekerja. Karena tidak mampu lagi membayar kost, kemudian Parman dengan mengajak Seroja menumpang di rumah kontrakan Ibu dan Bapak tirinya.

 

Saat Surama di luar kota menjenguk Ibunya, Setyowati memberi kabar jika Parman kembali jatuh sakit. Karena sudah sangat parah, kemudian Parman dijemput ambulan RSUD, dalam waktu bersamaan Seroja pun jatuh sakit.

 

Hari berikutnya Seroja kemudian dibawa ke RSUD oleh Setyowati. Setelah diperiksa, Seroja tidak harus rawap inap seperti Bapaknya, namun dibekali obat-obatan.

 

Sejak kemarin siang, Seroja menghilang dari rumah, biasanya kalau dia menghilang dia pergi ke makam ibunya, dia menangis berkeluh kesah di situ. Setyowati juga tidak bisa menghubungi Seroja, sampai nenek Seroja malam tadi memeberi kabar Setyowati jika Parman meninggal di RSUD.

 

Setyowati menangis di tengah suaminya yang sidang rapat virtual dengan teman-temannya. Yang dipikirkan Setyowati bagaimana masa depan Seroja.

 

Bapak Ibunya telah meninggalkannya, dia hanya sebatang kara, tersingkir dari kehidupannya.

 

Kemudian Setyowati bergegas ke rumah nenek Seroja, tempat jenazah Parman disemayamkan. Ternyata Seroja sudah kembali, dengan wajah kosong  dan badan lemah segera berlari memeluk erat Setyowati. Seroja menumpahkan semua tangisnya, terisak dan terbatuk-batuk menahan serangan penyakit dari dalam tubuhnya.

 

Setyowati hanya diam membisu, menahan beban yang berat. Kadang bergumam memanjatkan doa, memohon kekuatan lahir dan batin kepada Alloh Yang Maha Kuasa, sambil memeluk perempuan kecil, seumur anak pertamanya.

 

Seroja kini sebatang kara, dia tidak ingin tinggal bersama neneknya. Tugas Setyowati dan Surama untuk mengambil alih tanggung jawab mengiringi Seroja menjalani masa depannya, menjalani jalan takdir hidupnya.

 

Menangislah Seroja, agar semua beban hidup dalam dirimu tertumpah habis, agar penderitaan hidupmu menghilang bersama pergantian siang dan malam, yakinlah semangat hidupmu mampu menaklukkan serangan penyakit dari dalam tubuhmu.

 

Menangislah, habiskan kesedihan itu Seroja, karena kebahagiaan akan datang dalam kehidupanmu. Yakinlah, masih ada Setyowati dan Surama di sisi kiri dan kananmu, masih ada teman-teman aktivis dan relawan yang akan mendukungmu.

 

Selamat jalan Parman, purna sudah tugas hidupmu, semoga Alloh SWT mengampuni segala dosa-dosamu.

 

“Mari naik kapal bersama Seroja, kita seberangi lautan kehidupan ini, kita pasti bisa, kita pasti tiba di tempat yang kita dambakan.”

 

“Kita pasti menang!” Gumam Setyowati.

 

PINGGIRAN IBU KOTA

2 JULI 2020

 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *