Ini Lima Tersangka Kasus Dugaan Makar

inilahNEWS - JAKARTA- Pasca Pemilu 2019, polisi menetapkan lima tersangka kasus dugaan  makar. lima tersangka kasus dugaan makar itu adalah Eggi Sudjana, Lieus Sungkharisma, HS (25), IY dan R dan Kivlan Zen.

Penyidik menetapkan Eggi Sudjana sebagai tersangka dugaan makar pada 9 Mei 2019 setelah penyidik memiliki bukti permulaan yang didapatkan dari pemeriksaan saksi-saksi hingga barang bukti. Eggi dijerat pasal berlapis atas kasus dugaan makar terkait dengan seruan  people power tersebut.

Tersangka dugaan makar kedua adalah Lieus Sungkharisma. Penyidik menetapkan Lieus sebagai tersangka penyebaran berita bohong dan  makar. Penetapan tersangka dilakukan setelah polisi melakukan gelar perkara kasus yang menjerat Lieus tersebut. Selanjutnya, polisi menangkap Lieus di apartemennya di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, pada Senin (20/5/2019) pagi.

Saat penangkapan, penyidik menggeledah dua tempat tinggal Lieus. Penggeledahan pertama dilakukan di apartemen Lieus di kawasan Hayam Wuruk pada Senin pukul 06.40. Pada penggeledahan pertama, polisi mengamankan sejumlah barang bukti, seperti alat komunikasi berupa telepon genggam, CCTV, dan sejumlah dokumen.

Kemudian, polisi menggeledah rumah Lieus di Jalan Keadilan, Taman Sari, Jakarta Barat, pada pukul 09.30. Lieus dilaporkan seorang wiraswasta bernama Eman Soleman atas penyebaran berita bohong atau hoaks dan makar.

Selanjutnya Polisi mengamankan HS (25), pria yang mengancam memenggal kepala Jokowi, pada 12 Mei di daerah Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ancaman penggal kepala Jokowi itu dilontarkan HS saat melakukan aksi demonstrasi di depan gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (10/5/2019) siang.

Video itu pun langsung tersebar dan viral di media sosial. HS juga dilaporkan oleh relawan pendukung Joko Widodo yang tergabung dalam organisasi Jokowi Mania ke SPKT Polda Metro Jaya. Setelah dilakukan pemeriksaan, penyidik menetapkan HS sebagai tersangka dugaan makar.

“ Ia terancam hukuman penjara maksimal seumur hidup karena dianggap mengancam keamanan negara dan mempunyai niat membunuh kepala negara,” kata Kabid Humas Polda Metro Kombes Agro Yuwono kemarin ini.

Tersangka dijerat Pasal 104 KUHP dan atau Pasal 110 KUHP, Pasal 336 dan Pasal 27 Ayat 4 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik karena yang bersangkutan diduga melakukan perbuatan dugaan makar dengan maksud membunuh dan melakukan pengancaman terhadap presiden. Saat ini, HS telah ditahan di rumah tahanan (rutan) Polda Metro Jaya.

Selang dua hari setelah penangkapan HS, tersangka pengancam penggal kepala Presiden Joko Widodo,  polisi mengamankan dua perempuan yang diduga merekam dan menyebarkan video itu. Masing-masing berinisial IY dan R pada 15 Mei 2019.

Setelah dilakukan pemeriksaan, polisi pun menetapkan IY sebagai tersangka perekam dan penyebar video ancaman penggal kepala Jokowi. Sementara status R hanya sebagai saksi.

Atas perbuatannya tersebut, IY dijerat Pasal 104 KUHP dan atau Pasal 110 KUHP, dan Pasal 27 Ayat 4 jo Pasal 45 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

“Pelaku (IY) dijerat tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara dan tindak pidana di bidang ITE dengan modus pengancaman pembunuhan terhadap presiden RI yang sedang viral di media sosial saat sekarang ini,” ujar Argo. Saat ini, IY ditahan selama 20 hari ke depan di rutan Polda Metro Jaya sejak Kamis (16/5/2019).

Terakhir, tersangka dugaan makar adalah mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen. Ia ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penyebaran berita bohong dan makar oleh penyidik Polri.

Kivlan dilaporkan oleh seseorang bernama Jalaludin asal Serang, Banten, dengan nomor laporan LP/B/0442/V/2019/Bareskrim. Perkara yang dilaporkan adalah tindak pidana penyebaran berita bohong (hoaks) UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP Pasal 14 dan/atau Pasal 15 terhadap keamanan negara/makar UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP Pasal 107 juncto Pasal 87 dan/atau Pasal 163 bis juncto Pasal 107.

Kivlan pun dipanggil oleh penyidik Bareskrim untuk dimintai keterangan sebagai tersangka pada 29 Mei. Kala itu, Kivlan mengatakan, dirinya menyerahkan persoalan penahanannya kepada para penyidik.

“Itu kan haknya penyidik, haknya penyidik jadi kami enggak ada masalah. Kami serahkan sama penyidik, umpamanya dilanjutkan dengan cara pemeriksaan saya di luar atau saya di dalam saya terima, enggak ada masalah,” kata Kivlan di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan.

Sementara itu, saat ini Kivlan tengah ditahan di Rumah Tahanan Guntur selama 20 hari ke depan sejak Kamis (30/5/2019) atas kasus lain, yakni kepemilikan senjata api ilegal.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *