bjb-debit-card-solusi-transaksi-anda

NASIB PETANI JAWA BARAT SEMAKIN MEMPRIHATINKAN Oleh : Wendy Hartono

inilahNEWS - Oleh : Wendy Hartono

Ketua KPW – STN Jawa Barat

 

Jawa Barat atau yang lebih dikenal dengan Bumi Priangan, memiliki kesuburan tanah sangat tinggi karena daerahnya dikelilingi oleh gunung – gunung berapi dan hutan seperti Gunung Gede – Pangrango,Gunung Salak, Gunung Papandayan dan Gunung Ceremai menjulang tinggi dengan pemandangan indah dan cuaca sejuk,menjadi objek wisata pendakian yang dikunjungi banyak penggiat alam dari berbagai kota di Indonesia maupun dari Mancanegara.

Masyarakat  Jawa Barat selain hidup dari bercocok – tanam secara turun – temurun, hutan   menjadi sumber kehidupan dengan tetap menjaga keseimbangan alam dan melestarikan nilai – nilai kearifan budaya lokal mengajarkan untuk tidak merusak hutan, masyarakat memanfaatkan hasil hutan dijadikan produksi  berbagai kerajinan tangan   sebagai pendapatan sampingan,selama musim tanam dilahan – lahan pertanian  menunggu waktu panen tiba.

Banyak hasil pertanian berasal dari tanah Tatar Sunda ini. Beragam jenis pangan, seperti beras, jagung, sayur-sayuran dan buah-buahan banyak dihasilkan diberbagai wilayah di Jawa Barat, seperti Bogor, Cianjur, Sukabumi, Karawang,Subang,Purwakarata dan lain sebagainya sampai Jawa Barat dijuluki lumbung padi nasional karena hasil  produksi pertaniannya menjadi andalan bagi kebutuhan pangan nasional,bahkan menjadi komoditas ekspor.

Namun, kini setelah hutan – hutan dan gunung – gunung ditetapkan oleh pemerintah sebagai hutan konservasi dijadikan Taman Nasional seperti Gunung Gede – Pangrango,Gunung Salak, Gunung Papandayan dan Gunung Ceremai, masyarakat semakin terbatas memasuki hutan malah dianggap sebagai perambah hutan,begitu juga lahan – lahan yang biasa dijadikan tempat bercocok tanam banyak yang beralih fungsi dijadikan perumahan,perkebunan dan kawasan industri yang sebenarnya lahan – lahan produktif untuk pertanian.

Meskipun tidak ada data pasti seberapa berapa besar alih fungsi lahan pertanian produktif yang terjadi di Jawa Barat,akan tetapi bisa dikatakan  angka pembangunan di Jawa Barat merupakan tertinggi di Indonesia, dan tentu lahan yang digunakan untuk membangun, baik industri, maupun perumahan tersebut mengambil dari lahan pertanian produktif, karena sebelumnya hampir seluruh lahan yang ada di Jawa Barat dikelola dan ditanami oleh masyarakat sebagai lahan pertanian, dan sebagian besar profesi masyarakat di Jawa Barat adalah petani.

Semakin memprihatinkan kehidupan petani Jawa Barat harus tersingkir dari bumi kelahirnya sendiri, hampir disemua Kota/kabupaten Jawa Barat bernasib sama harus kehilangan lahan garapan,bahkan diusir secara paksa melalui intimidasi dan kekerasan fisik oknum aparat karena  dianggap sebagai penyerobot tanah.

Selain itu, hingga kini belum ada undang-undang yang mengatur lahan pertanian berkelanjutan. Keberadaan undang-undang tersebut sebenarnya bisa menghindari alih fungsi lahan pertanian produktif.

Pemerintah harus segera menyelesaikan pesoalan – persoalan agraria di Jawa Barat dengan membenahi Tata Ruang wilayah  sesuai fungsi pertanian,industri,perkebunan dan perumahan sebagai solusi memningkatkan perekonomian di Jawa Barat terutama dibidang pertanian sebagai komoditas asli pendapatan daerah dan mengurangi angka kemiskinan yang kian bertambah,karena banyak petani yang sudah tidak memiliki tanah sebagai sumber mata pencarian,pemerintah juga harus mensubsidi petani dari alat produksi,bibit dan pupuk dalam mengembangkan perekonomian disektor pertanian.

 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *